Sabtu, Agustus 13, 2011

Awas! Kebanyakan Duduk Picu Penyakit Kronis

TRIBUNNEWS.COM - Anda yang memiliki gaya hidup kurang aktif sebaiknya mulai waspada sejak dini. Karena hasil penelitian menunjukkan, gaya hidup kurang aktif atau sedentari dapat meningkatkan risiko mengidap penyakit kronis meskipun Anda telah meluangkan waktu untuk berolahraga.

"Jika orang-orang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, meski telah berolahraga secara rutin, mereka tetap berisiko tinggi terkena penyakit kronis. Jika mereka mau menambah gerakan dalam rutinitasnya sepanjang hari, mereka akan merasa lebih baik dan terhindar dari masalah kesehatan," ujar John Thyfault, asisten profesor nutrisi dan fisiologi dari Universitas Missouri.

Dalam penelitian terbaru, Thyfault dan timnya menemukan bahwa mereka yang gaya hidupnya berubah dari level aktivitas tinggi (lebih dari 10.000 langkah setiap hari) menjadi tidak aktif (kurang dari 5.000 langkah per hari) berisiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe 2.

Menurut Thyfault, aktivitas yang menuntut seseorang jarang duduk seperti tak terlihat pengaruhnya terhadap seseorang. Tetapi, dalam jangka panjang hal itu dapat mencegah kenaikan berat badan.

Dalam sebuah artikel terbaru yang dipublikasikan Journal of Applied Physiology, para peneliti berpendapat, gaya hidup kurang aktif merupakan penyebab utama penyakit kronis, seperti diabetes, obesitas, juga penyakit perlemakan hati. Berolahraga secara teratur pun mungkin belum cukup bagi mereka yang banyak duduk untuk menekan risiko penyakit ini.

Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk dapat memicu risiko kematian.

"Setiap orang harus mencoba mengambil paling tidak 10.000 langkah setiap hari. Tak perlu dilakukan sekaligus, tapi melakukan 500 hingga 1.000 langkah setiap beberapa jam sudah terbilang bagus," ujar Scott Rector, asisten profesor nutrisi dan olahraga fisiologi dari Universitas Missouri.

Perubahan kecil dapat meningkatkan jumlah langkah orang-orang dalam kegiatan rutin mereka.

"Cobalah untuk menggunakan tangga dibanding dengan elevator, berjalan menuju meja teman kantor dibandingkan dengan memanggil mereka, atau meluangkan sedikit waktu untuk Anda sedikit berjalan-jalan sepanjang hari," tambahnya.

Selasa, Agustus 09, 2011

Modal Untuk Para Penulis


Preposisi (Bahasa Latin: prae, "sebelum" dan ponere, "menempatkan, tempat") atau kata depan adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina. Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan.
Penggolongan
Cara penggolongan preposisi bervariasi tergantung dari rujukan yang digunakan. Berikut salah satu cara penggolongan yang dapat digunakan:
  1. Preposisi yang menandai tempat. Misalnya di, ke, dari.
  2. Preposisi yang menandai maksud dan tujuan. Misalnya untuk, guna.
  3. Preposisi yang menandai waktu. Misalnya hingga, hampir.
  4. Preposisi yang menandai sebab. Misalnya demi, atas.
Di, ke, dari
Penulisan preposisi ini ditulis terpisah, contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
Perkecualian untuk hal ini adalah:
  • kepada
  • keluar (sebagai lawan kata "masuk", untuk lawan kata "ke dalam", penulisan harus dipisah, "ke luar")
  • kemari
  • daripada
Dimana, di mana
Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan "Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada."
Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk "di mana" atau "dimana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah "who", "whom", "which", atau "where") atau variasinya ("dalam mana", "dengan mana", "yang mana", dan sebagainya)[1]. Penggunaan "dimana" atau "di mana" sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata "yang" sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu, dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK "DI MANA" DAN "DIMANA"[1], termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Kaidah tata bahasa Indonesia memiliki kosa kata yang cukup untuk menterjemahkan "who", "where", "which", "whom" tanpa menggunakan kata "di mana" atau "dimana". Contoh-contoh:
  • Dari artikel Kantin: Kantin adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan.
    • Usul perbaikan: Kantin adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan.
  • Dari artikel Tegangan permukaan: Tegangan permukaan = F / L dimana :
F = gaya (newton)
L = panjang m).[sic]
  •  
  •  
    • Usul perbaikan (rubah struktur kalimat): Jika
F = gaya (newton) dan
L = panjang (m),
maka tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.
  • Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice.
    • Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja.
  • Sebuah kalimat bahasa Indonesia: Ia kembali ke Jakarta, di mana ia dilahirkan (yang bila diterjemahkan ke bahasa Inggris secara tata bahasa benar)
    • Usul perbaikan: Ia kembali ke Jakarta, tempat ia dilahirkan
Kekisruhan ini mungkin disebabkan pengaruh oleh Ejaan Soewandi (1947) yang mengharuskan penulisan diserangkai dengan kata yang mengikutinya, baik sebagai kata depan maupun sebagai awalan.

Di mana
Penggunaan "di mana" (selalu ditulis terpisah) yang betul adalah pada kalimat tanya, misalnya: "Di mana buku saya?"[1]

Referensi

  1. (1998). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Rabu, Agustus 03, 2011

Be Success 100% with Attitude!

Be Success 100% with Attitude!

Salam ukhuwah fillah, saudaraku…..

Kesuksesan ( Success ) adalah sebuah goal yang tentunya diidam-idamkan semua orang yang tinggal di muka bumi ini. Apa ada orang yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya? Orang yang menginginkan hidupnya selalu menderita tanpa pernah merasakaan kebahagiaan? Tentunya tidak. Orang yang masih menganggur tentunya ingin segera mendapatkan pekerjaan. Seorang penjual roti keliling tentunya juga ingin suatu saat bisa membuka usaha toko rotinya sendiri. Bahkan anak-anak SD ketika ditanya gurunya tentang cita-citanya, banyak yang menjawab ingin menjadi dokter, guru, pengusaha, pilot, dan sebagainya. Mereka berharap dengan profesi impiannya itu mereka bisa menjadi orang yang sukses. Begitu halnya dengan Anda. Apapun profesi Anda saat ini, Apapun posisi Anda dalam lingkungan kerja Anda saat ini, tentunya Anda mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang Anda dapatkan sekarang. Jika saat ini Anda menjadi seorang staff di perusahaan, pasti Anda juga ingin bisa dipromosikan menjadi supervisor, lalu menjadi manajer, bahkan kemudian menjadi direktur. Maka dari itu Anda melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Dengan bekerja keras, berusaha untuk berprestasi dalam pekerjaan dengan harapan promosi akan segera menghampiri. Itu wajar, karena memang Tuhan menakdirkan manusia menjadi makhluk yang tidak pernah merasa puas. Bahkan dalam sebuah hadist juga disebutkan,”bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup untuk selama-lamanya.” Islam mengajarkan kita untuk bergerak meraih kesuksesan, bukan hanya diam dengan mengharap ada ’durian runtuh’ secara tiba-tiba. Tapi apakah Anda benar-benar tahu apa yang dimaksud kesuksesan itu?

Jika Anda tanya pada mahasiswa jurusan kedokteran mengenai apa itu kesuksesan, pasti mereka akan menjawab sukses itu saat mereka berhasil menjadi seorang dokter. Lain halnya jika kalian tanya pada seorang guru. Mungkin kesuksesan bagi mereka adalah ketika mereka mampu mengantarkan murid-muridnya berhasil lulus dalam ujian. Itulah makna dari kata ’sukses’. Masing-masing individu punya definisi sendiri dalam mengartikan sebuah kata ’sukses’. Karena memang masing-masing individu mempunyai mimpi dan keinginan yang berbeda-beda. Sukses adalah ketika kita berhasil meraih apa yang kita impikan dan kita inginkan. Lalu bagaimana dengan Anda? Apa keinginan Anda sekarang? Apa yang sudah Anda lakukan untuk impian Anda itu? Sudah seberapa jauh jalan yang Anda tempuh untuk mencapai kesuksesan? Semoga apapun yang Anda inginkan, Anda tidak akan bingung ataupun ragu untuk memulai langkah hingga sampai pada puncak kesuksesan, dimana semua keingina bisa Anda raih.

Saat ini cukup mudah untuk mendapatkan pemahaman sukses yang hakiki dan bagaimana kiat-kiat meraihnya. Hampir di setiap kota dan setiap waktu banyak diselenggarakan seminar-seminar yang didalamnya membahas semuanya. Bahkan jika Anda tidak punya cukup waktu untuk menghadiri acara-acara seperti itu, Anda tidak perlu khawatir. Sekarang banyak motivator yang membagikan motivasinya melalui media cetak, baik surat kabar, majalah, bahkan buku-buku motivator yang di dalamnya terdapat kiat-kiat meraih kesuksesan dan kisah-kisah orang sukses yang bisa kita ambil ibrahnya. Anda yang terlalu sibuk bisa mempelajari semua dengan membaca buku-buku motivator dimana pun dan kapan pun. Jadi, tidak alasan jika Anda gagal karena Anda tidak tahu bagaimana cara ntuk mencapai kesuksesan. Terlebih lagi jika Anda gagal karena Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan sekarang.

Baiklah, saya yakin saat ini pasti Anda sudah membuat target-target yang ingin Anda capai dalam kehidupan ini. Tentunya juga Anda menginginkan Anda bisa sukses meraih kesemuanya itu. Sehingga Anda sampai pada tujuan akhir yang diidam-idamkan banyak orang, yaitu kebahagiaan fii dunya wal akhirah, fii amanillah. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa sukses meraih target-target yang sudah kita gantungkan itu? Banyak orang beranggapan kita harus bekerja keras ( hardwork ) untuk bisa sukses. Sebagian dari mereka juga meyakini bahwa berpikir cerdas ( smart ) juga berpengaruh. Lalu kita juga mendengar kita harus mempunyai jiwa kepemimpinan ( leadership ) dalam bekerja. Atau juga kita harus mencintai pekerjaan kita agar kesuksesan bisa dengan mudah kita raih ( love ). Bahkah ada juga yang meyakini bahwa sukses tergantung pada keberuntungan seseorang ( lucky ). Bagaimana menurut Anda? Apa dengan kerja keras saja Anda bisa meraih kesuksesan? Apa dengan berpikir cerdas kita bisa menemukan dengan mudah kesuksesan? Apa mungkin dengan memiliki kepemimpinan atau pun cinta kesuksesan akan menghampiri kita? Atau mungkin Anda meyakini bahwa kesuksesan yang Anda raih adalah sebuah keberuntungan yang datang dengan sendirinya? Mari kita sama-sama mencari jawabannya. Anggaplah:

A=1 H=8 O=15 V=22

B=2 I=9 P=16 W=23

C=3 J=10 Q=17 X=24

D=4 K=11 R=18 Y=25

E=5 L=12 S=19 Z=26

F=6 M=13 T=20

G=7 N=14 U=21

Maka kita akan tahu bahwa: H+A+R+D+W+O+R+K=8+1+18+4+23+15+18+11=98%.

Apa yang dapat kita simpulkan dari matematika kehidupan itu? Kita dapat menyimpulkan bahwa dengan bekerja bekerja keras saja, kita tidak bisa mencapai kesuksesan yang 100%. Lalu bagaimana dengan berpikir cerdas ( SMART )?

S+M+A+R+T=19+13+1+18+20=71%

Itu artinya dengan berpikir cerdas saja, hanya 71% kesuksesan yang bisa kita raih. Lalu apa yang bisa menghantarkan kita untuk mencapai kesuksesan 100%? Dengan kepemimpinan ( leadership )?

L+E+A+D+E+R+S+H+I+P=12+5+1+4+5+18+19+8+9+16=97%

Dengan mencintai pekerjaan kita ( LOVE )?

L+O+V+E=12+15+22+5=54%

Atau mungkin kesuksesan itu bisa kita peroleh karena faktor keberuntungan ( lucky )?

L+U+C+K+Y=12+21+3+11+25=72%

Ternyata dengan kerja keras, berpikir cerdas, leadership, mencintai pekerjaan, dan juga keberuntungan tidak bisa menghantarkan kita kepada kesuksesan yang 100%. Lalu dengan apa kita bisa mencapai kesuksesan yang 100%?

Anda pasti sudah pernah mendengar istilah pendidikan karakter bukan? Banyak karyawan yang ditugasi perusahaanya untuk mengikuti pendidikan tersebut sebelum dipromosikan oleh atasannya. Saya yakin mereka semua adalah pekerja keras, orang yang cerdas, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan orang yang mencintai pekerjaannya. Buktinya ia dipercayakan oleh atasannya untuk bisa dipromosikan. Tapi semua itu tidaklah cukup jika karyawan tersebut berkarakter negatif dan mempunyai kebiasaan yang buruk. Karakter tersebut akan menentukan sikapnya kelak dalam memimpin, mengarahkan bawahannya, dan akan mempengaruhi tercapainya target yang sudah ditetapkan perusahaan. Jadi, sikap/perilaku/kebiasaan ( attitude ) sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Lalu apa dengan attitude kita bisa memperoleh kesuksesan yang 100%? Coba sekarang kita masukkan kata attitude ini dalam matematika kehidupan:

A+T+T+I+T+U+D+E=1+20+20+9+20+21+4+5=100%

Hasilnya luar biasa! Sekarang Anda sudah menemukan kunci yang akan bisa mengantarkan Anda ke depan pintu Kesuksesan yang Sebenarnya.

Sekarang, ambillah cermin. Letakkan dihadapan kita. Mari kita sama-sama bercermin. Apakah sikap kita selama ini telah mencerminkan usaha kita untuk meraih kesuksesan? Atau mungkin selama ini kita hanya berangan-angan kosong? Stop! Bangunlah kawan! Kita menginginkan kesuksesan dalam dunia yang nyata, bukan dalam mimpi. Bangkitlah! Jangan biarkan kemalasan ’menina bobokan’ kesuksesanmu. Bangunlah lebih awal dari biasanya, karena itu adalah kebiasaan dari orang-orang sukses. Mulai detik ini, marilah kita berkomitmen mengubah sikap dan kebiasaan kita menjadi orang yang sukses. Ubah sikap dan kebiasaan kita dalam bersosialisasi, baik dengan rekan kerja kita, atasan kita, waktu kita, dan yang tidak kalah penting, benahi hubungan kita dengan Sang Pemberi Kesuksesan, Allah Azza Wajalla. Ingatlah! Allah telah berjanji dalam surat Ar-Ra’d yang bunyinya, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Semoga bermanfaat....

Jakarta, 15 Juni 2011

Imam Buchori

Senin, Juli 18, 2011

Menulis Ala Chicken Soup

Sebelum saya memulai bahasan kali ini, izinkan saya untuk mengutip satu tulisan di sini. Tulisan itu saya ambil dari sini : www.oneminuteonline.wordpress.com.
 “…Seorang pria bernama Jack bermimpi untuk menulis buku. Bukan buku biasa. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, pada waktu itu. Buku itu akan berisi kumpulan kisah yang menggugah, ditulis dengan singkat dan padat, namun mengena. Dan yang membuat buku itu istimewa karena semua kisah dalam buku itu didasarkan pada kisah nyata. Jack percaya buku itu akan disukai karena akanmenginspirasi banyak orang yang membacanya. Setelah menemukan hasratnya, ia mulai menulis dengan penuh semangat.
Ketika buku itu telah selesai ditulis, naskah itu pun diajukan ke penerbit. Jack optimis akan mendapat respon positif. Tapi di luar dugaan, penerbit menolaknya. Tapi, masih ada banyak penerbit lain. Jack pun kembali mencoba memasukkan naskahnya ke penerbit lain. Dan ia ditolak lagi. Ia mencoba lagi untuk ke tiga kalinya, dan ditolak lagi. Ia tetap tak kenal menyerah. Ia mencoba lagi dan lagi, dan penolakan demi penolakan terus saja diterimanya. Tak tanggung-tanggung, ia telah mendapatkan penolakan sebanyak 124 kali!
Ya, 124 kali! Bukan jumlah yang sedikit. Bisakah Anda bertahan atas penolakan sebanyak itu? Pada penolakan yang ke berapakah kira-kira Anda akan memutuskan utnuk berhenti dan menyerah? Pada penolakan ke-100 kah? Pada penolakan ke-50 kah? Atau jangan-jangan daya tahan Anda hanya pada penolakan ke-10?
 Seandainya Jack memutuskan untuk menyerah pada penolakan ke-10, ke-50 atau ke-100 atau bahkan ke-124 dunia tidak akan pernah mengenal sebuah buku yang paling menginspirasi orang dari berbagai belahan bumi selama bertahun-tahun. Buku itu kita kenal dengan “Chicken Soup for the Soul”. Pada usahanya yang ke-125 akhirnya sebuah penerbit menerima naskahnya dan menerbitkannya. Dan ternyata buku itu laris manis, dan berhasil masuk dalam 150 top best seller sepanjang 15 tahun.
 Serial Chicken Soup menjadi buku motivasional yang sangat digemari di berbagai belahan bumi. Ada lebih dari 200 judul dari setiap serial buku ini yang telah dibuat oleh Jack Canfield, dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, dan terjual lebih dari 112 juta copy…..”
Buku-buku seri Chicken Soup mendulang sukses justru karena kekuatan ceritanya. Kekuatan cerita tersebut bukanlah terletak pada tema-tema yang berat, melainkan pada kesederhanaan kisah, kalimat-kalimat yang mengalir runut, menceritakan sebuah kisah sederhana yang pada akhir cerita akan membuat mulut kita ternganga saking takjubnya atau mungkin hanya sekedar menarik nafas panjang dan berpikir, “Wah.. ceritanya gue banget nih…”
Mengapa buku-buku Chicken Soup banyak digemari para pembacanya di seluruh dunia ? selain apa yang telah saya uraikan di atas, satu alasan lain lagi adalah, karena kisah-kisah yang ditampilkan di buku itu singkat, ringan, namun membawa banyak hikmah dan inspirasi bagi siapapun di berbagai belahan dunia ini.
Tulisan ala chicken soup ini masuk dalam genre non fiksi karena isinya adalah kisah-kisah nyata. Berkaitan dengan itu, sebaiknya hal-hal yang mendramatisir kisah kita jangan terlalu berlebihan sebab khawatir nantinya akan  hanya menjadi tulisan fiksi based on true story.
Kita pasti memiliki banyak cerita dalam kehidupan sehari-hari bukan ? ya, tentunya.
Setiap kita tentu punya cerita. Tidak bisa bercerita atau tidak bisa menuliskan cerita bukan berarti kita tidak memiliki cerita. Pada kenyataannya, cerita-cerita yang luar biasa di dunia berasal dari orang-orang yang memutuskan untuk diam dengan berbagai alasan. Namun pada akhirnya, ada banyak cara untuk mengungkapkan cerita itu kepada orang lain. Mungkin dengan jalan curhat kepada sahabat atau keluarga, atau menuliskannya.
Tips Menulis Ala Chicken Soup
·         Pilihlah satu cerita sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari. Satu cerita yang mungkin saja juga dialami oleh banyak orang lain di berbagai belahan dunia. Mungkin nanti cerita itu akan menggugah orang lain, mengingatkan orang lain, membawa hikmah atau sekedar hiburan bacaan ringan.
·         Tidak banyak yang harus kita tulis. Hanya satu kejadian kecil. Kisah yang sangat spesifik. Mungkin orang lain juga mengalami kisah tersebut. Tapi kita menuliskannya dengan perspektif berbeda berdasarkan pengalaman pribadi yang tentunya akan menghasilkan akhir cerita yang berbeda dengan orang lain.
Menulis ala chicken soup butuh ‘FOKUS’. Gimana caranya bisa fokus? Kadang-kadang suka ngalor-ngidul nih tulisannya saat ide dituangkan ! Nah, cara yang mungkin bisa membantu adalah saat kita telah memilih sebuah kisah, gali memori kita dalam-dalam tentang kisah tersebut. Lalu, ambillah poin penting dari kisah tersebut agar tidak melebar kemana-mana.
Intinya, pikirkan satu cerita kecil dalam periode kehidupan kita yang sesuai dengan tema tulisan yang akan kita buat. Galilah cerita tersebut secara mendalam, dan temukan hikmah apa yang bisa kita bagikan kepada orang lain dari cerita tersebut. Mungkin cerita tersebut bukan kisah yang luar biasa, bukan pula kisah yang mampu menggetarkan banyak hati. Tapi setidaknya, cerita itu membawa dampak dalam kehidupan kita di kemudian hari.
Ingat ! Kekuatan cerita akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca. Tapi, alangkah lebih bagus bila kekuatan cerita itu dipadukan dengan gaya penceritaan yang membuat pembaca makin terkesima dengan tulisan kita. “wooow !”

Cara Menulis ala Chicken Soup.
Misalkan saya akan menulis naskah dengan tema Pacar Pertama.
Saya akan duduk dengan tenang. Saya  ajak pikiran saya kembali ke masa lalu. Siapakah pacar pertama saya ? kapankah kisah cinta pertama saya ? apakah saat di SMP ? SMA ? Kuliah ? owh.. pacar pertama saya adalah si A, misalnya. Kenanglah kembali kisah dengan A itu. Apakah ada satu kejadian yang paling saya ingat dari hubungan saya dengan A tersebut ?

Ya, ada. Tiba-tiba saya ingat bahwa dulu, sekian puluh tahun  yang lalu, A pernah memberikan kejutan yang istimewa untuk saya. Padahal saya tahu, A adalah orang yang paling tidak romantis abad ini. Kejutan istimewa itu telah begitu susah payah dirancang oleh A namun saya tidak menyadarinya dan malah membuatnya kecewa. Pada akhirnya saya menyesal, namun A keburu marah dan memutuskan meninggalkan saya.

Sedih ? memang. Dan itulah yang akan saya tuliskan dalam kisah saya itu. Saya tidak akan menuliskan bagaimana ketika saya pertama kali pacaran di sekolah. Saya tidak akan menjelaskan satu persatu siapa saja pacar-pacar saya dulu sesudah si A itu. Saya juga tidak akan menjelaskan dari A sampai Z bagaimana gaya berpacaran saya dengan si A kala itu.
Yang akan saya tuliskan hanyalah sepotong kisah kecil ketika A berusaha menyenangkan hati saya dengan memberi surprise namun saya malah merusak segalanya. Simple. Sederhana. Namun di akhir cerita saya akan tuliskan betapa sepotong episode itu membawa hikmah yang luar biasa dalam kehidupan saya saat ini. Setidaknya, ketika saya kembali berhubungan dengan orang lain, saya jadi belajar untuk lebih peka dan lebih mengerti pasangan saya tersebut.
Menulis ala chicken soup, biasanya tidak perlu panjang-panjang. Hanya sekitar 3-5 halaman saja dengan aturan standar TNR 12, 1,5 spasi. Tidak perlu menjejali tulisan ibu-ibu dengan data dan fakta yang begitu banyak. Ingat, tulisan ini akan dibaca sebagai teman beristirahat, teman dalam perjalanan, teman saat santai, maka buatlah tulisan yang ringan, mengalir dan manis. Semanis kue J.
Menulis pengalaman nyata, apalagi pribadi terkadang akan menyenggok seseorang. Agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berbau ghibah, kita bisa melakukan hal-hal sbb :
·         Tidak menyebutkan nama jelasnya dalam tulisan kita. Cukup dengan sebutan saja, misalnya, “Mantan kekasih”, atau “ibu tiri saya ”.
·         Fokuskan pada bagian hikmah yang terpetik dari kisah tersebut. Ceritakan kisahnya apa adanya dan bahas pendapat kita tentang pengalaman itu.
Contoh seperti di atas :
saya menuliskan ttg masa 20 tahun lalu ketika saya masih berseragam putih biru. saat itu saya dekat dengan seorang teman sekelas, bernama Gie. percakapan2 panjang setiap hari membuat saya dan Gie semakin dekat. tapi sayang, ketika saya mulai merasakan ada perasaan lain di hati, saya baru tau bahwa ternyata Gie itu sudah punya teman dekat lain. Dan gie tetap menganggap saya sbg sahabat baiknya. pada akhirnya, saya mulai belajar menyadari sesuatu bahwa ternyata persahabatan itu bisa jauh lebih indah dibandingkan percintaan. ini terbukti krn ternyata pada akhirnya , ketika saya dan Gie mulai kuliah di tempat yg berbeda, Gie bisa bergonta ganti pacar beberapa kali, tapi tetap saja sahabat baiknya adalah saya.
Sama seperti menuliskan sebuah cerpen atau novel, point of view yang digunakan bisa sebagai orang pertaman, orang kedua dan orang ketiga. Kita bisa menuliskan kisah hidup kita, atau kisah orang2 terdekat kita, dengan Pov Aku atau dia. Berkaitan dengan POV kedua atau ketiga yang menyangkut dengan kisah orang lain, alangkah baiknya bila kita memonta izin dulu pada yang empunya kisah. Ya, hal ini penting untuk menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan di kemudian hari loh! Hihihi….. J
Soal ending, alangkah baiknya bila tidak menggantung dan menyisakan pertanyaan yang mendalam di lubuk hati pembaca. Berikanlah sebuah conclusion yang mengandung hikmah baik secara implicit maupun ekspilsit.
Misalnya : saya menulis kisah ttg ketika saya bercerai dengan suami. setelah semua keributan berakhir, saya menangis, dan saat itulah saya sadar, bahwa Tuhan itu luar biasa baik hati. Dia menguji kita dengan cara yang tak terduga dan ketika kita lulus ujian itu, ada banyak kebahagiaan yg menanti untuk dijemput oleh kita. bukankah itu juga hikmah ? bagi diri saya, kisah itu merupakan hikmah. mungkin kelak diantara sekian puluh juta orang ( halah, lebay banget ya..hihihi) yang membaca kisah itu, ada satu yang bilang, "aduuh... ceritanya gue bangeeet !"


“….Pikirkanlah 5 atau 10 tahun dari sekarang, Ketika generasi kesekian membaca kisahmu, dan dia tersenyum karena memiliki pengalaman yang sama denganmu. Atau dia menangis karena bersedih untukmu. Atau dia terobati karena engkau menyuarakannya. Tidak banyak. Hanya kejadian kecil…” (Anonim)
 NB : Tangkap satu cerita kecil dari episode kehidupan kita, dan kembangkan itu menjadi tulisan ringan yang menarik. Karenanya, saya selalu berprinsip dalam hidup, yaitu “perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita, dan temukan keajaibannya…”
Akhir kata, tips menulis itu ada 3 yaitu :
1.      Menulis
2.      Menulis
3.      Menulis
So, selamat menulis !!! J
Sumber : notes FB Mba Lygia Pecanduhujan dengan sedikit gubahan
© Copyright 2019 Town Square WR 06 | All Right Reserved