Selasa, Agustus 16, 2011
Minggu, Agustus 14, 2011
Selly Noverina
KAJIAN KEPENULISAN : Siapa Bilang Nulis Buku Susah ?! Penulis Abdul Jabbar.
NGAPAIN SIH NULIS BUKU ?
Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum sekolah atau kampus
yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat. Ngapain sih nulis buku? Nulis buku kan susah. Harus baca banyak literatur. Belum nyusun kata-kata yang bagus dan sesuai kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Nilai Bahasa Indonesia saya aja cuma dapet 5,5. Itupun hasil nyontek. Jadi, bagaimana mungkin bisa nulis buku! Pokoknya susah deh!
Susah…Susah…Susaaaaaah…!!!
Eeh, sabar dulu Sobat! Jangan teriak-teriak gitu. Malu tuh diliatin banyak orang. Belum nyoba kok udah bilang susah. Coba dulu atuh. Baru kemudian bisa bilang susah. Kalo belum dicoba, darimana kita tahu kalo nulis buku itu susah. Ya, nggak?! Lagian, nulis buku itu nggak susah kok. Serius, saya nggak bo’ong. Buktinya, ada orang yang sekolah SD aja nggak tamat tapi bisa nulis buku. Udah gitu bukunya best seller lagi. Trus, ada juga lho pembantu rumah tangga yang bisa nulis buku. Anak-anak kecil sekarang (yang masih SD) banyak juga kok yang bisa nulis buku. Pokoknya menulis buku itu nggak susah kok. Menulis buku itu
guampang. Kalo nggak percaya, coba deh kamu baca buku ini sampai selesai. Nanti kamu bakalan tau sendiri kalo menulis buku itu memang gampang pang...pang...paaaang....
Trus, kenapa sih kok harus nulis buku, kenapa nggak nulis tembok rumah tetangga aja?
Yee…itu mah vandalisme namanya. Nggak boleh kita nulisnulis tembok rumah tetangga. Ntar kalo dimarahin sama yang punya rumah baru tahu rasa lho! Daripada nulis-nulis tembok tetangga, mendingan nulis-nulis tembok sekolah (Lho, kok!) Eh, nggak…nggak….becanda he...he.... Mendingan kamu nulis buku aja.
Dijamin banyak manfaatnya deh. Pingin tahu apa aja manfaatnya? Karena manfaat menulis buku itu banyak buanget, bejibun kalo kata orang Betawi, maka cukup saya sebutin beberapa aja dulu.
Sisanya ntar nyusul di bab selanjutnya.
Manfaat Menulis Buku
Pertama, dengan menulis buku kita akan mendapatkan pahala dari Alloh. Lho, kok bisa? Iya, soalnya kita telah mengajarkan kebaikan (Ingat lho, “kebaikan” bukannya “kejahatan”) kepada orang lain.
Sehingga dengan begitu kita akan memperoleh pahala dari Alloh. Tentunya dengan syarat kita melakukannya dengan ikhlas karena Alloh, bukan semata-mata untuk mengharapkan materi keduniaan (seperti uang, popularitas, dll.). Apa aja bentuk pahala yang akan kita dapet? Berikut ini
diantaranya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
“Segala sesuatu akan memintakan ampunan kepada orang yang
mengajarkan kebaikan, bahkan ikan-ikan yang ada di laut pun akan
memintakan ampunan baginya” (HR. Ath-Thabrani)
Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:
”Demi Allah, engkau menyebabkan seseorang mendapatkan hidayah
Allah itu lebih baik daripada engkau memiliki unta merah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Unta merah itu adalah harta paling berharga bagi orang Arab
tempo dulu. Kalo sekarang mungkin sebanding dengan mobil
canggih keluaran terbaru.
Kedua, dengan menulis buku kita akan dapat pahala dobel, yaitu pahala mengajarkan kebaikan dan pahala dari orang yang kita ajarkan kebaikan (lewat buku). Tapi ini tentunya dengan syarat bahwa orang
lain yang kita ajarkan lewat buku mau mengamalkan apa yang kita ajarkan itu.
Tentang hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Barangsiapa yang menunjuki kepada satu kebaikan, maka dia akan
memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR.
Muslim)
Ketiga, dengan menulis buku kita akan mendapat pahala berantai. Wah, apaan tuh pahala berantai? Begini maksudnya. Misalnya ada orang yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang kita sebarkan lewat buku, kemudian dia mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, dan orang lain yang diajarkan itu mengajarkan lagi
kepada orang yang lain lagi, dan begitu seterusnya sampai tujuh turunan lebih, maka kita akan mendapatkan pahala dari mereka juga. Bayangkan seandainya jumlah mereka itu ribuan bahkan mungkin
jutaan? Subhanalloh! Banyak sekali pahala yang akan kita dapat
.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia berhak
memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya,
hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.” (HR.
Muslim)
Keempat, dengan menulis buku kita akan mendapatkan pahala mengalir. Mengalir ke mana? Ya, mengalir ke kuburan kita ketika kita sudah meninggal dunia. Jadi kita akan tetap mendapatkan pahala lewat buku yang kita tulis itu meskipun kita sudah meninggal dunia. Kenapa bisa seperti itu? Karena orang yang mengajarkan ilmu (kebaikan) kepada orang lain, maka ilmunya itu akan terus membuahkan pahala untuk orang yang mengajarkannya, meskipun orang itu telah meninggal dunia.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
”Jika manusia telah mati, maka terputuslah semua amalnya,
kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak
shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Di antara amal dan kebaikan yang dapat menyusul seorang Mukmin setelah ajalnya tiba adalah ilmu yang diajarkan dan disebarluaskan, anak shalih yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangun, atau rumah yang diperuntukkan untuk ibnussabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan), saluran air yang dibangun atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya saat sehat dan hayat masih dikandung badan, (pahalanya) akan mengikutinya hingga setelah meninggal.” (HR. Ibnu Majah)
Coba kamu bayangin seandainya buku karyamu ditaro di perpustakaan umum sekolah atau kampus yang ada di setiap kota dan daerah. Kemudian setiap hari dibaca dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Maka, betapa besar pahala yang bakalan kamu dapat. Apalagi jika buku itu tetap dimanfaatkan sampai ribuan tahun,
sebagaimana buku-buku yang ditulis oleh para ulama semisal Imam Bukhori, Imam Muslim, dll. Wah, nggak kebayang deh…
Tapi sekali lagi harus kita ingat. Semua ini hanya akan bisa didapat jika tulisan kita memenuhi dua persyaratan. Pertama, buku yang kita tulis isinya bermanfaat, bukan justru merusak dan ngajarin yang nggak bener. Sebab, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam
pernah bersabda begini:
“Barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka dia akan
menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim)
Nah, lho! Ngeri banget kan. Orang lain yang berbuat dosa tapi kita kena kecipratan dosanya juga. Kenapa? Sebab kita yang jadi pelopornya. Kita yang ngajarin pertama kali. Makanya kita ikut bertanggung jawab, karena kita telah ikut andil menjerumuskan mereka kepada perbuatan dosa, walaupun secara nggak langsung.
Kemudian syarat yang kedua, niat kita dalam menulis buku itu yang utama ialah demi mengharap ridho dan pahala dari Alloh (ikhlas). Bukannya demi uang, popularitas, dan tetek-bengek keduniaan lainnya. Namun jangan salah paham, Sobat! Bukan berarti kita nggak boleh ngarepin dapet duit dari menulis buku. Boleh aja. Tapi inget, niat utama ialah demi mendapatkan pahala. Adapun uang, insya Alloh menyusul.
Jika aktivitas menulis buku yang kita lakukan memang betul-betul ikhlas, pasti Allah akan memberikan balasan yang terbaik buat kita. Kalo belom dibalas di dunia, pasti akan Alloh balas di akhirat. Jadi nggak usah takut!
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha
ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min, maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”.
(QS. Al-Israa [17]:19)
Nah, demikianlah manfaat yang bisa kita kita dapet dari
menulis buku. Gimana, sudah cukup? Apa....??? Masih belum cukup
juga! Oke deh, saya tambahin deh satu lagi.
Kelima, dengan menulis buku kita akan menjadi cerdas. Hayoo...kenapa coba? Kenapa menulis buku bisa bikin kita cerdas? Ayo...ada yang bisa jawab? Ya, coba itu yang angkat tangan. Tahu nggak alasannya, kenapa nulis buku bisa bikin cerdas? Ya, seratus! Sebab, dengan menulis buku otomatis kita akan terdorong untuk melakukan pengkajian secara lebih mendalam. Misalnya aja kita nulis buku tentang “cara bertanam pohon mangga di kebun”, tentu kita akan mencari banyak referensi untuk kemudian kita baca, kita kaji, dan kita susun dalam bentuk tulisan baru. Dengan begitu wawasan kita akan menjadi bertambah luas.
Saya sendiri mengalami hal ini ketika menulis buku tentang rokok. Saya baru tahu bahwa dari sebatang rokok ternyata mengandung ribuan zat-zat kimia yang sangat berbahaya, seperti: Polonium-201 (bahan radioaktif), acetone (bahan pembuat cat), ammonia (bahan untuk pencuci lantai), napthalene (bahan kapur
barus), DDT & arsenic (yang biasa untuk racun serangga), hydrogen cyanida (gas beracun yang lazim digunakan di kamar eksekusi hukuman mati), methanol (bahan bakar roket), cadmium (digunakan ntuk accu mobil), vinyil chloride (bahan plastik PVC), phenol bhutane (bahan bakar korek api), carbon monoxide (asap dari knalpot kendaraan), naftalen (kamper), toluene (pelarut industri), dan masih banyak lagi.
Nah, kalau saya nggak nulis buku rokok, bisa jadi saya nggak tahu masalah ini. Oleh karena itu, kalo kamu mau tambah cerdas, ya...nulis buku aja! Mungkin cukup lima manfaat ini aja yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Sisanya ntar saya sebutin di bab...mmm....bab ke berapa ya? Kalo nggak salah di bab kedua deh. Silakan lihat sendiri. Di sana saya akan sebutkan bahwa menulis buku ternyata bisa bikin kaya. Kamu bisa mendapatkan uang milyaran rupiah dari buku yang kamu tulis. Tertarik, Sobat!?
Mmm....tertarik sih. Cumaaa....mmm...cumaaa.... Cuma apa?
Saya kan nggak punya gelar. Saya cuma lulusan SD. Mungkin nggak sih saya bisa menulis buku?.
Yee...emangnya kalo nulis buku harus punya gelar dulu. Nggak perlu lagi. Yang penting kita menguasai dan ngerti dengan yang kita tulis, itu aja. Kan udah saya kasih tau tadi bahwa banyak juga penulis buku yang nggak punya gelar. Bahkan lulus SD pun nggak. Berarti kamu masih mending masih lulus SD. Kalau kamu taunya cuma gimana cara beternak bebek, ya tulis aja buku tentang cara beternak bebek. Kalau kamu taunya cuma gimana cara berdagang somay, ya tulis aja buku tentang gimana caranya berdagang somay. Kalau kamu taunya cuma gimana caranya menanam ganja –eh,nggak boleh ya?- menanam pepaya misalnya, ya
tulis aja buku tentang gimana cara menanam pepaya agar bisa berbuah lebat. Kalau kamu tahunya
cumaaa.....mmm...aah....kayaknya kamu emang kudu baca buku ini
sampai selesai deh, biar kamu yakin kalo menulis buku itu nggak
perlu harus nunggu dapet gelar dulu. Ya udah, lanjutin deh bacanya!
Selly Noverina
Antologi 2 WR06 Dengan Tema: UNTUK NEGERI
Alhamdulillah blog kampung kita tercinta mendapat prestasi yang cukup menyenangkan pada bulan Juli 2011, sehingga kita mendapat diskon untuk penerbitan satu buku untuk kampung WR yang bekerjasama dengan Leutikaprio.
Berhubung dengan adanya Event Diskon yang kita dapatkan tersebut, Kami selaku aparatur kampung ini, berencana untuk menerbitkan satu buah buku antologi yang berisi kumpulan cerpen karya terbaik warga WR 6. Adapun ketentuan yang harus diperhatikan dalam pengumpulan naskah adalah sbb :
TEMA : UNTUK NEGERI
- Antologi hanya berlaku khusus untuk warga WR6 ( TIDAK BERLAKU BAGI kASUK DARI KAMPUNG SEBELAH YANG JUGA MASUK DALAM SETIAP KAMPUNG)
- Naskah ditulis di Mc.Word, papper A4, margin normal, TNR 12, spasi 2 dan panjang 4-8 halaman.
- Gunakan kalimat yang ringan dan mudah dipahami, dengan tetap memperhatikan EYD dan kaidah penulisan yang berlaku.
- Naskah dikirim ke antologi2wr06@yahoo.com (tidak di badan email) dgn format: Antologi2WR06_ Nama_Judul Naskah
- Lampirkan Biodata Narasi maksimal 200 kata di akhir naskah (Di luar batas halaman)
- Akan di pilih 25 naskah terbaik yang sesuai dengan Tema dan kaidah penulisan untuk di bukukan
- Dan karena ini buku bersama, maka atas kerjasamanya, penulis yang naskahnya terpilih, diwajibkan untuk membayar penerbitan naskah dengan sistem bagi rata jika masih di perlukan biaya tambahan (Diluar diskon yang didapatkan)
- DL : Paling lambat tanggal 10 Oktober 2011 pukul 23.59
Sekian pemberitahuan ini, dimohon agar seluruh warga bisa berpartisipasi dalam pembuatan buku antologi ke 2 kita. Sekian dan terimakasih. Ayo kita mulai menulis. Semangat..!! Wassalam.
Sabtu, Agustus 13, 2011
Awas! Kebanyakan Duduk Picu Penyakit Kronis
"Jika orang-orang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, meski telah berolahraga secara rutin, mereka tetap berisiko tinggi terkena penyakit kronis. Jika mereka mau menambah gerakan dalam rutinitasnya sepanjang hari, mereka akan merasa lebih baik dan terhindar dari masalah kesehatan," ujar John Thyfault, asisten profesor nutrisi dan fisiologi dari Universitas Missouri.
Dalam penelitian terbaru, Thyfault dan timnya menemukan bahwa mereka yang gaya hidupnya berubah dari level aktivitas tinggi (lebih dari 10.000 langkah setiap hari) menjadi tidak aktif (kurang dari 5.000 langkah per hari) berisiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe 2.
Menurut Thyfault, aktivitas yang menuntut seseorang jarang duduk seperti tak terlihat pengaruhnya terhadap seseorang. Tetapi, dalam jangka panjang hal itu dapat mencegah kenaikan berat badan.
Dalam sebuah artikel terbaru yang dipublikasikan Journal of Applied Physiology, para peneliti berpendapat, gaya hidup kurang aktif merupakan penyebab utama penyakit kronis, seperti diabetes, obesitas, juga penyakit perlemakan hati. Berolahraga secara teratur pun mungkin belum cukup bagi mereka yang banyak duduk untuk menekan risiko penyakit ini.
Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk dapat memicu risiko kematian.
"Setiap orang harus mencoba mengambil paling tidak 10.000 langkah setiap hari. Tak perlu dilakukan sekaligus, tapi melakukan 500 hingga 1.000 langkah setiap beberapa jam sudah terbilang bagus," ujar Scott Rector, asisten profesor nutrisi dan olahraga fisiologi dari Universitas Missouri.
Perubahan kecil dapat meningkatkan jumlah langkah orang-orang dalam kegiatan rutin mereka.
"Cobalah untuk menggunakan tangga dibanding dengan elevator, berjalan menuju meja teman kantor dibandingkan dengan memanggil mereka, atau meluangkan sedikit waktu untuk Anda sedikit berjalan-jalan sepanjang hari," tambahnya.
Selasa, Agustus 09, 2011
Selly Noverina
Modal Untuk Para Penulis
Penggolongan
Cara penggolongan preposisi bervariasi tergantung dari rujukan yang digunakan. Berikut salah satu cara penggolongan yang dapat digunakan:
- Preposisi yang menandai tempat. Misalnya di, ke, dari.
- Preposisi yang menandai maksud dan tujuan. Misalnya untuk, guna.
- Preposisi yang menandai waktu. Misalnya hingga, hampir.
- Preposisi yang menandai sebab. Misalnya demi, atas.
Penulisan preposisi ini ditulis terpisah, contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
Perkecualian untuk hal ini adalah:
- kepada
- keluar (sebagai lawan kata "masuk", untuk lawan kata "ke dalam", penulisan harus dipisah, "ke luar")
- kemari
- daripada
Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan "Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada."
Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk "di mana" atau "dimana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah "who", "whom", "which", atau "where") atau variasinya ("dalam mana", "dengan mana", "yang mana", dan sebagainya)[1]. Penggunaan "dimana" atau "di mana" sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata "yang" sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu, dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK "DI MANA" DAN "DIMANA"[1], termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Kaidah tata bahasa Indonesia memiliki kosa kata yang cukup untuk menterjemahkan "who", "where", "which", "whom" tanpa menggunakan kata "di mana" atau "dimana". Contoh-contoh:
- Dari artikel Kantin: Kantin adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan.
- Usul perbaikan: Kantin adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan.
- Dari artikel Tegangan permukaan: Tegangan permukaan = F / L dimana :
L = panjang m).[sic]
-
- Usul perbaikan (rubah struktur kalimat): Jika
L = panjang (m),
maka tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.
- Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice.
- Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja.
- Sebuah kalimat bahasa Indonesia: Ia kembali ke Jakarta, di mana ia dilahirkan (yang bila diterjemahkan ke bahasa Inggris secara tata bahasa benar)
- Usul perbaikan: Ia kembali ke Jakarta, tempat ia dilahirkan
Di mana
Penggunaan "di mana" (selalu ditulis terpisah) yang betul adalah pada kalimat tanya, misalnya: "Di mana buku saya?"[1]
Referensi
- (1998). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Rabu, Agustus 03, 2011
Be Success 100% with Attitude!
Be Success 100% with Attitude!
Salam ukhuwah fillah, saudaraku…..
Kesuksesan ( Success ) adalah sebuah goal yang tentunya diidam-idamkan semua orang yang tinggal di muka bumi ini. Apa ada orang yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya? Orang yang menginginkan hidupnya selalu menderita tanpa pernah merasakaan kebahagiaan? Tentunya tidak. Orang yang masih menganggur tentunya ingin segera mendapatkan pekerjaan. Seorang penjual roti keliling tentunya juga ingin suatu saat bisa membuka usaha toko rotinya sendiri. Bahkan anak-anak SD ketika ditanya gurunya tentang cita-citanya, banyak yang menjawab ingin menjadi dokter, guru, pengusaha, pilot, dan sebagainya. Mereka berharap dengan profesi impiannya itu mereka bisa menjadi orang yang sukses. Begitu halnya dengan Anda. Apapun profesi Anda saat ini, Apapun posisi Anda dalam lingkungan kerja Anda saat ini, tentunya Anda mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang Anda dapatkan sekarang. Jika saat ini Anda menjadi seorang staff di perusahaan, pasti Anda juga ingin bisa dipromosikan menjadi supervisor, lalu menjadi manajer, bahkan kemudian menjadi direktur. Maka dari itu Anda melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Dengan bekerja keras, berusaha untuk berprestasi dalam pekerjaan dengan harapan promosi akan segera menghampiri. Itu wajar, karena memang Tuhan menakdirkan manusia menjadi makhluk yang tidak pernah merasa puas. Bahkan dalam sebuah hadist juga disebutkan,”bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup untuk selama-lamanya.” Islam mengajarkan kita untuk bergerak meraih kesuksesan, bukan hanya diam dengan mengharap ada ’durian runtuh’ secara tiba-tiba. Tapi apakah Anda benar-benar tahu apa yang dimaksud kesuksesan itu?
Jika Anda tanya pada mahasiswa jurusan kedokteran mengenai apa itu kesuksesan, pasti mereka akan menjawab sukses itu saat mereka berhasil menjadi seorang dokter. Lain halnya jika kalian tanya pada seorang guru. Mungkin kesuksesan bagi mereka adalah ketika mereka mampu mengantarkan murid-muridnya berhasil lulus dalam ujian. Itulah makna dari kata ’sukses’. Masing-masing individu punya definisi sendiri dalam mengartikan sebuah kata ’sukses’. Karena memang masing-masing individu mempunyai mimpi dan keinginan yang berbeda-beda. Sukses adalah ketika kita berhasil meraih apa yang kita impikan dan kita inginkan. Lalu bagaimana dengan Anda? Apa keinginan Anda sekarang? Apa yang sudah Anda lakukan untuk impian Anda itu? Sudah seberapa jauh jalan yang Anda tempuh untuk mencapai kesuksesan? Semoga apapun yang Anda inginkan, Anda tidak akan bingung ataupun ragu untuk memulai langkah hingga sampai pada puncak kesuksesan, dimana semua keingina bisa Anda raih.
Saat ini cukup mudah untuk mendapatkan pemahaman sukses yang hakiki dan bagaimana kiat-kiat meraihnya. Hampir di setiap kota dan setiap waktu banyak diselenggarakan seminar-seminar yang didalamnya membahas semuanya. Bahkan jika Anda tidak punya cukup waktu untuk menghadiri acara-acara seperti itu, Anda tidak perlu khawatir. Sekarang banyak motivator yang membagikan motivasinya melalui media cetak, baik surat kabar, majalah, bahkan buku-buku motivator yang di dalamnya terdapat kiat-kiat meraih kesuksesan dan kisah-kisah orang sukses yang bisa kita ambil ibrahnya. Anda yang terlalu sibuk bisa mempelajari semua dengan membaca buku-buku motivator dimana pun dan kapan pun. Jadi, tidak alasan jika Anda gagal karena Anda tidak tahu bagaimana cara ntuk mencapai kesuksesan. Terlebih lagi jika Anda gagal karena Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan sekarang.
Baiklah, saya yakin saat ini pasti Anda sudah membuat target-target yang ingin Anda capai dalam kehidupan ini. Tentunya juga Anda menginginkan Anda bisa sukses meraih kesemuanya itu. Sehingga Anda sampai pada tujuan akhir yang diidam-idamkan banyak orang, yaitu kebahagiaan fii dunya wal akhirah, fii amanillah. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa sukses meraih target-target yang sudah kita gantungkan itu? Banyak orang beranggapan kita harus bekerja keras ( hardwork ) untuk bisa sukses. Sebagian dari mereka juga meyakini bahwa berpikir cerdas ( smart ) juga berpengaruh. Lalu kita juga mendengar kita harus mempunyai jiwa kepemimpinan ( leadership ) dalam bekerja. Atau juga kita harus mencintai pekerjaan kita agar kesuksesan bisa dengan mudah kita raih ( love ). Bahkah ada juga yang meyakini bahwa sukses tergantung pada keberuntungan seseorang ( lucky ). Bagaimana menurut Anda? Apa dengan kerja keras saja Anda bisa meraih kesuksesan? Apa dengan berpikir cerdas kita bisa menemukan dengan mudah kesuksesan? Apa mungkin dengan memiliki kepemimpinan atau pun cinta kesuksesan akan menghampiri kita? Atau mungkin Anda meyakini bahwa kesuksesan yang Anda raih adalah sebuah keberuntungan yang datang dengan sendirinya? Mari kita sama-sama mencari jawabannya. Anggaplah:
A=1 H=8 O=15 V=22
B=2 I=9 P=16 W=23
C=3 J=10 Q=17 X=24
D=4 K=11 R=18 Y=25
E=5 L=12 S=19 Z=26
F=6 M=13 T=20
G=7 N=14 U=21
Maka kita akan tahu bahwa: H+A+R+D+W+O+R+K=8+1+18+4+23+15+18+11=98%.
Apa yang dapat kita simpulkan dari matematika kehidupan itu? Kita dapat menyimpulkan bahwa dengan bekerja bekerja keras saja, kita tidak bisa mencapai kesuksesan yang 100%. Lalu bagaimana dengan berpikir cerdas ( SMART )?
S+M+A+R+T=19+13+1+18+20=71%
Itu artinya dengan berpikir cerdas saja, hanya 71% kesuksesan yang bisa kita raih. Lalu apa yang bisa menghantarkan kita untuk mencapai kesuksesan 100%? Dengan kepemimpinan ( leadership )?
L+E+A+D+E+R+S+H+I+P=12+5+1+4+5+18+19+8+9+16=97%
Dengan mencintai pekerjaan kita ( LOVE )?
L+O+V+E=12+15+22+5=54%
Atau mungkin kesuksesan itu bisa kita peroleh karena faktor keberuntungan ( lucky )?
L+U+C+K+Y=12+21+3+11+25=72%
Ternyata dengan kerja keras, berpikir cerdas, leadership, mencintai pekerjaan, dan juga keberuntungan tidak bisa menghantarkan kita kepada kesuksesan yang 100%. Lalu dengan apa kita bisa mencapai kesuksesan yang 100%?
Anda pasti sudah pernah mendengar istilah pendidikan karakter bukan? Banyak karyawan yang ditugasi perusahaanya untuk mengikuti pendidikan tersebut sebelum dipromosikan oleh atasannya. Saya yakin mereka semua adalah pekerja keras, orang yang cerdas, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan orang yang mencintai pekerjaannya. Buktinya ia dipercayakan oleh atasannya untuk bisa dipromosikan. Tapi semua itu tidaklah cukup jika karyawan tersebut berkarakter negatif dan mempunyai kebiasaan yang buruk. Karakter tersebut akan menentukan sikapnya kelak dalam memimpin, mengarahkan bawahannya, dan akan mempengaruhi tercapainya target yang sudah ditetapkan perusahaan. Jadi, sikap/perilaku/kebiasaan ( attitude ) sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Lalu apa dengan attitude kita bisa memperoleh kesuksesan yang 100%? Coba sekarang kita masukkan kata attitude ini dalam matematika kehidupan:
A+T+T+I+T+U+D+E=1+20+20+9+20+21+4+5=100%
Hasilnya luar biasa! Sekarang Anda sudah menemukan kunci yang akan bisa mengantarkan Anda ke depan pintu Kesuksesan yang Sebenarnya.
Sekarang, ambillah cermin. Letakkan dihadapan kita. Mari kita sama-sama bercermin. Apakah sikap kita selama ini telah mencerminkan usaha kita untuk meraih kesuksesan? Atau mungkin selama ini kita hanya berangan-angan kosong? Stop! Bangunlah kawan! Kita menginginkan kesuksesan dalam dunia yang nyata, bukan dalam mimpi. Bangkitlah! Jangan biarkan kemalasan ’menina bobokan’ kesuksesanmu. Bangunlah lebih awal dari biasanya, karena itu adalah kebiasaan dari orang-orang sukses. Mulai detik ini, marilah kita berkomitmen mengubah sikap dan kebiasaan kita menjadi orang yang sukses. Ubah sikap dan kebiasaan kita dalam bersosialisasi, baik dengan rekan kerja kita, atasan kita, waktu kita, dan yang tidak kalah penting, benahi hubungan kita dengan Sang Pemberi Kesuksesan, Allah Azza Wajalla. Ingatlah! Allah telah berjanji dalam surat Ar-Ra’d yang bunyinya, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Semoga bermanfaat....
Jakarta, 15 Juni 2011
Imam Buchori
Surat Untuk Anakku
Surat Untuk Anakku
Oleh Imam Buchori
Alamat: Jl. Masjid V no.21, Pejompongan, Jakarta Pusat
e-mail: ikhwanul.fillah@gmail.com
Selangor, Malaysia, 11 Mei 2011 07:15
“Kriiing... Kriiing… Kriiing…”
“Hallo.”
“Assalamualaikum. Bisa berbicara dengan Ibu Dewi Kartika?”
“Wa’alaikumsalam. Ya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini Om Wawan, Nak, dari kampung.”
”Oh... Om Wawan. Bagaimana kabarnya, Om?”
”Om baik-baik saja. Tapi Ibumu... ”
”Ada apa dengan Ibu, Om?”
”Segeralah pulang, Nak. Ibumu sangat merindukanmu.”
”Baik, Om. Besok Dewi akan pulang. Hari ini Dewi masih banyak kerjaan.”
”Ayolah, Nak, tinggalkan dulu kerjaanmu itu sebentar untuk ibumu.”
”Tapi, Om... ”
”Pokoknya kamu harus pulang hari ini juga. Ibumu sakit keras. Assalamualaikum”
”Wa... waalaikumsalam.”
Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, 11 Mei 2011 12:05
”Alhamdulillah sampai juga di bandara,” ucap Dewi dalam hati mengusap peluh di dahi, bergegas mencari taksi untuk mengantarkannya sampai rumah. Kecemasan nampak jelas dari raut wajahnya.
Tidak banyak perubahan. Kota Jogja masih sama seperti dua tahun lalu saat terakhir Dewi pulang ke kampung halaman untuk menghadiri acara resepsi pernikahan sahabatnya, Linda. Sebagai seorang konsultan akuntansi, banyak klien yang harus diurusnya setiap waktu. Bahkan terkadang waktu libur pun banyak klien yang mendatangi rumahnya untuk berkonsultasi mengenai laporan keuangan perusahaan mereka. Itulah yang mengakibatkan ia cukup sulit untuk bisa kembali ke kampung halamannya. Hari ini pun sebenarnya ia terpaksa pulang karena khawatir dengan keadaan ibunya. Atas seizin Pak Samsir, manajernya, ia terpaksa membatalkan semua pertemuan dengan klien sampai satu minggu ke depan.
”Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ibu.” Perkataan itu diulang-ulangnya sepanjang perjalanan sebagai munajat agar ibunya baik-baik saja.
”Terimakasih ya, Pak,” ucap Dewi sambil menyodorkan sejumlah uang kepada sopir taksi yang telah mengantarkannya sampai di depan gang rumah. Ia berjalan setengah berlari. Perasaannya tambah tidak karuan. Jantungnya berdebar hebat. Darahnya mengalir lebih cepat dari ujung kaki dan mengumpul di kepala. ”Ah... ini cuma perasaanku saja,” gumamnya dalam hati menenangkan diri.
Langkahnya semakin cepat kemudian berubah menjadi berlari meninggalkan koper yang dibawanya setelah melihat dari jauh ada keranda di depan rumahnya. ”Ada apa dengan ibu? Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.”
”Syukurlah, Nak, kamu sudah pulang,” sambut Om Wawan yang memang sudah dari tadi menunggu kedatangannya.
”Apa yang terjadi, Om? Kenapa banyak orang di rumah Ibu?” tanya Dewi cemas. Tak terasa air matanya mulai menetes. Ini pasti pertanda buruk.
”Ibumu sudah tidak ada, Nak,” jawab Om Wawan tak kuasa membendung air matanya yang dari tadi ia tahan.
Om Wawan memeluk Dewi erat, memaksa air matanya mengalir. Ia memberontak, seketika melepaskan diri dari pelukan pamannya, lalu berlari dengan air mata yang bercucuran. Detak jantungnya kini melambat, seolah diam, tak dapat ia rasakan hingga tersungkur lemas setelah sampai di hadapan mayat ibunya yang sudah dikafani. Ditatapi wajah ibunya untuk yang terakhir kali. ”Ibuuu... Dewi sudah pulang, Bu. Bangunlah... Maafin Dewi, Bu....”
Air matanya mengalir sangat deras. Tak henti-hentinya ia mencoba membangunkan ibunya dan meminta maaf. Langit siang itu seolah-olah runtuh, menimpa bangunan dalam jiwanya hingga hancur. Ibu, orang tua satu-satunya yang masih dimiliki, kini telah menyusul Bapak. Matanya terus meratapi kepergian Ibu hingga akhirnya Om Wawan datang menenangkannya.
Ds. Jamus, Jogjakarta, 12 Mei 2011 07:00
Dewi masih mengurung diri di kamar ibunya. Pipinya sembab, bertanda semalam terjadi hujan lebat dari langit-langit matanya. Lagu ”Ambilkan Bulan, Bu” terdengar mengalun, mengiringi kesedihannya. Di rabanya foto yang ada di hadapannya. Sesekali terdengar ucapan penyesalan keluar dari bibirnya yang basah, ”maafin Dewi, Bu. Dewi terlambat pulang.”
Ia meraih sebuah kotak yang dari tadi tergeletak di atas meja, kemudian dibukanya. Kotak itu diberikan Om Wawan kemarin selesai upacara pemakaman jenazah Ibu. Di dalamnya terdapat selembar surat. Ia menahan air matanya untuk sementara, dibukanya surat itu.
Jogjakarta, 10 Mei 2011
Teruntuk: Anakku tersayang
yang selalu kurindu kedatangannya
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nak, bagaimana kabarmu di sana? Adakah yang melepaskan sepatumu saat kau lupa melepasnya dan tertidur pulas karena kelelahan sepulang kerja? Adakah yang menutupkan selimut untukmu tiap malam agar kamu tidak kedinginan? Adakah yang cerewet membangunkanmu tiap shubuh saat kamu susah dibangunkan? Adakah yang membuatkan air hangat untuk kamu mandi tiap pagi? Adakah yang menantikan kepulanganmu setiap malam?
Nak, rindukah kamu dengan suara Ibu yang menyanyikan sebuah lagu untuk mengantarmu tidur? Ibu rindu menyanyikan lagu kesukaanmu, “Ambilkan Bulan, Bu”, yang Ibu nyanyikan hampir setiap malam untuk mengantarkan tidurmu.
Nak, rindukah kamu dengan masakan Ibu yang kadang terlalu asin sehingga kamu menyindir Ibu kalau Ibu ingin menikah lagi? Ibu rindu candaanmu itu. Karena saat kamu tersenyum lebar, Ibu bisa tahu gigi serimu belum juga tumbuh.
Nak, rindukah kamu dengan almarhum bapakmu? Jika kamu rindu dan menangis, kemarilah, Nak. Ibu rindu untuk memelukmu dan mengatakan kalau Ibu akan selalu menjagamu untuk menenangkanmu.
Maafkan Ibu, Nak, jika ibu selalu meneleponmu hanya untuk sekedar menanyakan kabarmu. Terkadang kamu menjawabnya dengan cukup kasar dan singkat karena memang saat itu kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi tak apalah, bisa mendengar suaramu saja, itu sudah cukup untuk mengobati satu persen kerinduan Ibu padamu.
Nak, Maafkan Ibu. Seperti kamu tahu, semakin hari usia Ibu semakin tua dan fisik ibu semakin lemah. Hingga terkadang Ibu tidak bisa bangun di sepertiga malam untuk mendoakanmu. Tetapi percayalah, Nak, Ibu selalu mendoakanmu setiap malam saat Ibu susah tidur karena merindukanmu.
Nak, sudah hampir satu tahun ini Ibu sering sakit-sakitan, dan Ibu merasa bahwa Ibu sudah tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi untuk menahan rasa sakit ini. Pulanglah, Nak, Ibu ingin menatap wajahmu untuk yang terakhir kali. Pulanglah, Nak, Ibu ingin memelukmu.
Dari : Ibumu yang sangat merindukanmu
Lalu diambilnya lipatan selimut yang ada di dalam kotak. Selimut bergambar Hello Kitty kesayangannya saat ia masih kecil. Pemberian alamarhum Bapak yang selalu menemaninya tidur dahulu. Ternyata Ibu masih menyimpannya. Mungkin untuk mengobati hatinya ketika tengah dirundung kerinduan dengan anaknya. Air mata Dewi yang tertahan sementara kembali tumpah ruah. Dipeluk dan diciuminya selimut itu berulang kali. ”Maafkan Dewi, Bu. Dewi sayang Ibu ....”
*********


FOLLOW THE Town Square WR 06 AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow Town Square WR 06 on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram